Tidak
hanya terkenal dengan pengobatannya tetapi juga terkenal dengan sejarahnya,
George Town Penang Malaysia salah satu kota peninggalan sejarah yang di akui UNESCO
sebagai World Heritage. Bangunan-bangunan tua dikota ini masih terpelihara
dengan sangat baik. Perhatian pemerintah dan warga setempat menjaga terpeliharanya
bangunan-bangunan tersebut, jelas menghambat bangunan rusak yang aus dimakan
zaman.
Lou
Fuk warga tionghoa yang tinggal dijalan Leubuh armenian yang saya jumpai menceritakan
bahwa bangunan-bangunan yang ada dikota Georgetown tidak dapat direnovasi
sesuai dengan keinginan pemilik tetapi harus mengikuti aturan yang ditetapkan
oleh pemerintah setempat. Pemilik bangunan atau pun rumah hanya diperbolehkan
merenovasi interiornya saja. Oleh sebab itu,
bangunan- bangunan dan rumah-rumah di kota georgetown tetap terjaga keasliannya
dari tahun ke tahun. Keindahan kota George Town terletak dari keberagaman
bangunan yang ada didalamnya dan selalu ada kejutan di tiap sudut kota ini.
Multi Cultural yang hidup secara damai dan tidak mengungguli satu sama lain, menambah indahnya kota ini. Kejutan lainnya yang saya temui sekitar 100 meter dari jalan Kapitan Keling, tersimpan jejak langkah Saudagar Aceh sejak pertengahan abad 19. Jejak langkah saudagar Aceh berada di Jalan Leubuh Acheh lebih dikenal dengan Acheen Street. Jalur ini memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan kota George Town, hal tersebut disebabkan Acheen Street pernah menjadi pusat persinggahan Jemaah Haji dan perdagangan rempah.
Multi Cultural yang hidup secara damai dan tidak mengungguli satu sama lain, menambah indahnya kota ini. Kejutan lainnya yang saya temui sekitar 100 meter dari jalan Kapitan Keling, tersimpan jejak langkah Saudagar Aceh sejak pertengahan abad 19. Jejak langkah saudagar Aceh berada di Jalan Leubuh Acheh lebih dikenal dengan Acheen Street. Jalur ini memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan kota George Town, hal tersebut disebabkan Acheen Street pernah menjadi pusat persinggahan Jemaah Haji dan perdagangan rempah.
Penanda
jalan lebuh Acheh terdapat sebuah mesjid yang dibangun pada tahun 1808 oleh
seorang putera asal Aceh keturunan Arab dari Hadramaut, Yaman, Tunku Syeh
Husain Idid yang kemudian menetap di Penang. Beliau menjadi Pedagang Aceh yang
kaya raya dan berpengaruh di Penang ketika kota Penang baru dibuka oleh Kapten
Sir Francis Light dari Inggris pada akhir abad ke-18.
Mencapai kejayaan yang gemilang, akhirnya beliau membangun Mesjid, Rumah kedai, Rumah tinggal, Madrasah dan Kantor perdagangan diseputaran leubuh acheh. Pada masanya Leubuh Acheh tidak pernah sunyi dari kunjungan para jemaah haji, pelajar, ahli agama dan lainnya. Mesjid bergaya Asia tenggara ini terletak di kawasan rumah-rumah bersejarah dan kuburan islam abad ke-19 serta makam tengku Syeh Husain Idid berada dibelakang mesjid tersebut. Arsitektur mesjid ini sangatlah unik, perpaduan antara tiga gaya arsitektur, China, Moor dan Klasik dengan menara berbentuk persegi delapan.
Mencapai kejayaan yang gemilang, akhirnya beliau membangun Mesjid, Rumah kedai, Rumah tinggal, Madrasah dan Kantor perdagangan diseputaran leubuh acheh. Pada masanya Leubuh Acheh tidak pernah sunyi dari kunjungan para jemaah haji, pelajar, ahli agama dan lainnya. Mesjid bergaya Asia tenggara ini terletak di kawasan rumah-rumah bersejarah dan kuburan islam abad ke-19 serta makam tengku Syeh Husain Idid berada dibelakang mesjid tersebut. Arsitektur mesjid ini sangatlah unik, perpaduan antara tiga gaya arsitektur, China, Moor dan Klasik dengan menara berbentuk persegi delapan.
Kentalnya budaya China pada mesjid ini terlihat di menara mesjid seakan seperti pagoda China yang terletak di depan mesjid tepatnya di pintu masuk. Gaya arsitektur Moor terdapat di dinding bagian mihrab, gaya arsitektur Moor ini juga terdapat di Mesjid Baiturahman Banda Aceh. Gaya Klasik terdapat pada tiang-tiang yang berukuran besar di beranda Mesjid. Pada Awal perkembangannya, mesjid ini selain menjadi pusat kegiatan umat Islam di pulau penang tetapi juga sebagai pusat persinggahan Jemaah Haji sementara menunggu keberangkatan ke Mekkah. Namun pada tahun 1976 aktivitas tersebut berakhir manakala perjalanan Haji menggunakan Kapal Laut digantikan oleh Pesawat terbang.
Sementara di sisi kiri mesjid terdapat
rumah-rumah tinggal dengan corak tradisional khas Aceh zaman dulu dengan
jendela memanjang dan berdaun yang terbuat dari kayu serta corak kerawang khas Aceh. Peninggalan beliau lainnya,
Rumah tinggal yang saat ini dijadikan sebagai Mesium Islam Pulau Pinang yang
terletak antara Lebuh Acheh dan Lebuh Armenian.
Dalam setiap sudut kota George Town saya dapat
melihat dan merasakan kentalnya peradaban masa lalu yang masih tersimpan dengan
baik hingga saat ini. Penang ternyata bukanlah tempat yang asing bagi
Masyarakat Aceh, Penang merupakan awal langkah kaki bagi masyarakat Aceh menuju
Negara lainnya dalam berbagai aspek, baik dari segi pendidikan, kebudayaan maupun perdagangan.
Sejarah Aceh yang tersimpan begitu rapi dalam jantung kota George Town,
mengingatkan saya akan potensi Aceh agar tetap menjaga peradaban dan kebudayaannya
hingga di masa yang akan datang.
![]() |
| View didalam mesjid |
Jejak Langkah Saudagar Aceh di Penang, Malaysia
Reviewed by zura_dz
on
July 24, 2019
Rating:
Reviewed by zura_dz
on
July 24, 2019
Rating:


No comments: